Penelitian
Up

Penelitian

MERUMUSKAN FAKTOR EKSPOSI RADIOGRAFI  THORAX PA DEWASA UNTUK MENDAPATKAN KUALITAS GAMBAR OPTIMAL

Eka Putra Syarif Hidayat 1

Abstrak

Penelitian ini dilakukan di bagian  Radiologi RSUD  Tarakan  Jakarta Barat pada bulan Agustus - Nopember 2011. Tujuan penelitian ini untuk membuat formulasi pemberian faktor eksposi (kV dan mAs) thorax Postero Anterior(PA) orang dewasa yang standar berdasarkan karakteristik pasien (tebal dada, usia, berat badan, tinggi badan, dan jenis kelamin) agar diperoleh gambar radiografi thorax yang optimal di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan Jakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif yang bersifat analitik,  dengan pendekatan crossectional.   Pengumpulan data berupa pengukuran berat badan, tinggi tebal dada, pencatatan umur pasien dan jenis kelamin pasien. Data diolah dan dianalisis univariat, bivariat dan multivariat. Analisis satatistik dengan analisis korelasi, regresi linier, uji t, dan regresi linier ganda.   Dari hasil penelitian didapatkan rumusan regresi linier tentang hubungan variabel berat badan, tinggi badan dan tebal dada dengan faktor eksposi kV,  dan hubungan antara berat badan dan tebal dada dengan faktor ekspsoi mAs. Hasil analisis multivariat diperoleh hubungan antara tebal dada dan berat badan dengan faktor eksposi kV dengan rumus Y hat (kV) = 51,335 + 0,127 Berat badan + 0,267 Tebal Dada. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemberian faktor eksposi kV pada Thorax PA dapat ditentukan berdasarkan tebal dada dan berat badan pasien  secara bersamaan. Pemberian faktor ekposi mAs ditentukan berdasar tebal dada atau Berat badan pasien saja.

Kata kunci :  Thorax, Tebal Dada, Berat Badan, Tinggi Badan,  kV, dan mAs

 

FORMULATE  A RADIOGRAPHIC EKSPOSURE FACTOR OF THORAX  PA ADULTS  TO  GET OPTIMAL  IMAGE QUALITY

Abstract

The research was conducted at the Radiology Departement of  Tarakan Provincial General Hospital in West Jakarta in August - November 2011. The purpose of this study to make  the formulation of ekspose factors (kV and mAs) to Postero Anterior (PA) thorax adult standards based on patient characteristics (chest thickness, age, weight, height, and sex) in order to obtain optimal images of the thorax radiography in that Hospital. Type of study is a quantitative of analytic research, with crossectional approach. Collecting data is a measurement of body weight, height, chest thickness, and recording the patient's age and sex. Data were processed and analyzed univariate, bivariate and multivariate. Analysis of Statistic  with correlation analysis, linear regression, t test, and multiple linear regression.  Results of this reasearch obtained from the linear regression formula of the relationship variables weight, height and a chest thickness by a eksposure factor kV, and the relationship between weight and chest thickness by a ekspsosure factor mAs. The results obtained by multivariate analysis of the relationship between chest thickness and body weight by a factor ekspose kV with the formula : Y hat (kV) = 51.335 + 0.127  Weight + 0.267  Chest Thickness The conclusion of this reasearch to take expose factor  kV on the PA thorax adult standards can be determined based on  chest thickness and body weight of patients simultaneously. To take   ekpose factor mAs determined by the chest thicness or  body weight of patient's.


Key words : Thorax, Chest Thickness, Weight and  Height of  Body , kV, and mAs

 

1)      Dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II

 

KUALITAS AIR MINUM ISI ULANG SECARA BAKTERIOLOGIS

DI KELURAHAN KOJA JAKARTA UTARA

TAHUN 2011

 

Erni Yunani,SKM1,Drs Pangestu1,Sri Ani,SKM,MKM1

 

Abstrak

Permasalahan penelitian ini adalah adanya kecenderungan penduduk untuk mengkonsumsi air minum isi ulang  demikian besar, hampir setiap rumah tangga menggunakan air isi ulang, sehingga usaha Depot  Air Minum isi ulang (DAMIU) tumbuh subur dimana mana. Agar air tersebut aman, maka perlu adanya pemeriksaan secara bakteriologis terhadap kualitas  air agar aman dan sehat untuk dikonsumsi masyarakat.Lokasi penelitian di Kecamatan Koja Jakarta Utara karena sering banjir dan pernah terjadi kasus diare tahu 2009,  sampel 30 buah depot air minum isi ulang yang tersebar di 7 kelurahan. Desain cross sectional, tujuan untuk mengetahui kualitas air minum secara bakteriologis dengan cara menghitung  jumlah kuman  (HJK) dan menggunakan metode tabung ganda untuk menghitung perkiraan terdekat jumlah kuman atau MPN ( Most Probable Number ) E. coli. Hasil penelitian 30 DAMIU 100 % memasok air dari tangki mobil air minum, 100% sumber dari air pegunungan, 20 % tidak menunjukkan sertifikat, hasil pemeriksaan kualitas air,jumlah kuman > 0 sebesar 70 %, MPN E. coli non fecal > 0 sebesar 6,67 %.  Kesimpulan dari 30 sampel yang memenuhi syarat adalah 20 (66,67 %) dan tidak memenuhi syarat 10 (33,33 %).

Kata kunci : Air minum isi ulang – uji bakteriologis – kualitas air minum secara bakteriologis

DRINKING WATER QUALITY IN BACTERIAL CONTENT OF RE-FILL

IN THE VILLAGE KOJA, NORTH JAKARTA

IN 2011

 

Abstract

The problem of this research is the tendency of population to consume drinking water refill so large, almost every household uses water refills, so businesses. Drinking water Depot refills (DAMIU) flourished everywhere. So that the water is sfe, it is necessary bacteriological examination of water quality to be safe and healthy to eat people. Research sites in the District Koja, North Jakarta  due to frequent floods and never knew of cases of diarrhea occurred in 2009, a sample of 30 drinking water refill depot spread over 7 districts. Cross-sectional design, the objective to determine the bacteriological quality of drinking water by calculating the number of germs (HJK) and use the double tube method to calculate the approximate nearest number of germs or MPN (Most probable Number) E. coli. 30 results DAMIU 100 % water supply drinking water from the tank car, 100 % of mountain water sources, 20 % did not indicate the water quality certificate examination results, the number of germ > 0 by 70 %, MPN E. coli non fecal > 0 at 6,67 %. The conclusion of the 30 samples that meet the requirements is 20 (66,67 %)  and do not quality 10 (33,33 %).

Key words : drinking water refill-bacteriological tests-the bacteriological quality of drinking water

1) Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Jakarta II
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UKURAN GINJAL

Gando Sari 1

Abstrak

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Jakarta II, RS Medistra, dan Puskesmas Cengkareng, pada bulan Agustus - Nopember 2011. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan terhadap ukuran ginjal  yang terdiri dari panjang ginjal kanan-kiri dan lebar ginjal kanan-kiri. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif yang bersifat analitik,  dengan pendekatan crossectional.   Pengumpulan data berupa pengukuran berat badan, tinggi badan, pencatatan umur pasien dan jenis kelamin pasien, selanjutnya dilakukan pemeriksaan ultrasonografi ginjal yang disertai pengukuran panjang dan lebar dari kedua ginjal. Data diolah dan dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Analisis satatistik dengan analisis korelasi, regresi linier, uji t, dan regresi linier ganda.   Dari hasil penelitian didapatkan rumusan regresi linier tentang hubungan variabel berat badan dengan ukuran panjang ginjal kiri, Y = 7,92 + 0,038 (BB). Hubungan variabel tinggi badan dengan ukuran panjang ginjal kiri, Y = 4,27 + 0,036 (TB). Hubungan variabel umur dengan panjang ginjal kanan, Y = 10,111 – 0,025 (umur). Hubungan variabel berat badan dengan panjang ginjal kanan, Y = 8,07 + 0,26 (BB). Hubungan variabel tinggi badan dengan panjang ginjal kanan, Y = 3,636 + 0,037 (TB). Hubungan variabel berat badan dengan lebar ginjal kiri, Y = 2, 91 + 0,028 (BB). Hubungan variabel tinggi badan dengan lebar ginjal kiri, Y = 1,551 + 0,018 (TB). Hubungan variabel berat badan dengan lebar ginjal kanan, Y = 2,638 + 0,021 (BB). Hubungan variabel tinggi badan dengan lebar ginjal kanan, Y = 0,316 + 0,022 (TB). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa faktor yang paling dominan terhadap ukuran panjang ginjal kanan dan kiri adalah tinggi badan. Dan faktor yang paling dominan terhadap ukuran lebar ginjal kanan dan kiri adalah berat badan.

Kata kunci :  Ginjal, USG, umur, jenis kelamin, Berat Badan, Tinggi Badan.

 

FACTORS RELATED WITH THE RENAL SIZE

Abstract

The research was  conducted at the laboratory of  Major   Radiodiagnostic Radiotherapy Polytechnic of Health Jakarta II, in August-November  2011. The purpose of this research to find out the relationship age, sex, weight and height of the size of the kidneys which consists of a length and width of kidney renal both sides. This type of research that is used  a type of quantitative research - analytic, with crossectional approach. Data collection is a measurement of weight, height, the recording of the patient's age and sex of the patient, the kidney ultrasound examinations performed subsequently are accompanied by a measurement of length and width of both kidneys. The Data is processed and analyzed in univariate, bivariat and multivariate. Statistik analysis with the analysis of correlation, linear regression, t-test, linear and multiple regression.  The research results obtained as linear regression formula about the relationship of variables of research results obtained as linear regression, formula of variable weight body relationship with the size of the length of the left kidney, Y = 7.92+0,038 (WB). Variable height body relationship to the size of the length of the left kidney, Y = 4.27+ 0,036 (HB). The variable age relationship with long the right kidney, Y = 10,111 + 0.025 (age). Variable weight body relationship with right renal length, Y = 8.07+0.26 (WB). Variable height body relationship with right renal length, Y = 0,037+3,636 (HB). Variable connection weight body with a width of the left kidney, Y = 2, 91+ 0.028 (WB). The variable relationship with height, the width of the left kidney, Y = 1,551+0,018 (HB). Variable connection weight with wide right kidney, Y = 2,638+0.021 (WB). The variable relationship with height, the width of the right kidney, Y = 0,316+0,022 (HB). The conclusions of the study that the most dominant factor of the size of the length of the left and right kidney is body height. And the most dominant factor of the size of the width of the left and right kidney is body weight.

Key words : Kidney, ultrasound, age, sex, body weight, body height.

1 Dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II

 

Pengaruh Formula BMC Tepung Ikan Terhadap Kualitas Organoleptik dan Proksimat Kue Kering

Lanita Somali, Sa'diah Multi Karina, Endang Titi Amrihati 1)

 

Abstrak

Salah satu penanganan gizi buruk adalah dengan memberikan makanan yang terbuat dari bahan makanan campuran (BMC) yang memenuhi syarat gizi yaitu 360 Kkal, 16-20% protein, 25% lemak dan memiliki skor protein >69. Tepung ikan merupakan sumber protein hewani untuk pertumbuhan tubuh dan dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan protein. Menurut BPS produksi kue kering meningkat dibuktikan produk ini disukai orang. Kemkes menetapkan kue kering/biskuit digunakan sebagai salah satu bentuk MP-ASI yang praktis dalam program penanganan gizi buruk. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula BMC tepung ikan terhadap kualitas organoleptik dan proksimat kue kering. Penelitian eksperimental dengan RAL 1 perlakuan, 6 taraf dan 3 replikasi diawali dengan menghitung PS>69 BMC. Uji statistik menunjukkan tidak ada pengaruh berbagai formula terhadap warna, rasa, dan tekstur. Sebaliknya ada pengaruh berbagai formula terhadap aroma kue kering. Berdasarkan hasil penilaian panelis terhadap produk, panelis menyukai kue kering dengan perlakuan T-2, BMC dengan PS 81,2 mempunyai karakteristik: warna kuning keemasan, rasa cukup asin terasa gurih, renyah-kompak saat digigit dan agak beraroma ikan dengan 5,63% kadar air, 1,91gram abu, 6,74gram protein, 29,47gram lemak dan 56,26gram karbohidrat. Disarankan untuk mengembangkan kue kering dengan menggunakan tepung lain.

 

 

Effect Of Fish Powder Formula BMC in Organoleptic Quality and Proximate Cookies

ABSTRACT

One of the treatment of malnutrition by providing food that is made ​​from a mixture of food ingredients (BMC) which are eligible in nutrient, 360 kcal, 16-20% protein, 25% fat and have a protein score> 69. Fish powder is a source of animal protein for body growth and can be used to overcome the lack of protein. According to BPS demonstrated increased production of cookies showed that products is favored people. MOH set cookies / biscuits used as a form of MP-ASI is practical in malnutrition treatment program. Accordingly, this study aims to determine the effect of fish powder BMC formula to organoleptic quality and proximate cookies. Experimental studies with RAL 1 treatment, 6 level and 3 replication begins by calculating the PS> 69 of BMC. Statistical tests showed no effect of the various formulas for color, flavor, and texture. Instead there is influence of the various formulas in cookies flavor. Based on the results of the assessment panel of the product, the panelists liked the cookies with the treatment of T-2, BMC with PS 81.2 has the following characteristics: golden yellow color, quite salty flavor was tasty, crisp, compact when bitten and somewhat flavorful fish with a 5.63% moisture content, ash 1.91 grams, 6.74 grams of protein, 29.47 grams of fat and carbohydrate 56.26 grams. It is advisable to develop cake flour with other mixture powder.

Keywords: Protein score, BMC, cookies, Fish concentrte protein, fish powder

 

1) Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II


PERBEDAAN  KEKASARAN  PERMUKAAN  HEAT  CURED

DAN  SELF CURED  ACRYLIC RESIN YANG  DIPOLES   DENGAN   PUMICE,

ABU  GOSOK   DAN  TANPA  BAHAN  POLES

Sherly Ida Diana1,  Endang Prawesthi1,  Margaritha Salean1

Abstrak

Pembuatan gigi tiruan akrilik diperlukan pemolesan untuk mendapatkan  protesa yang halus sehingga nyaman dipakai oleh pasien. Banyak  bahan poles yang dikenal di Indonesia misalnya pumice, bahan ini  sering dipakai di laboratorium gigi. Selain pumice terdapat bahan yang belum pernah digunakan tetapi kemungkinan bisa menjadi bahan poles, yaitu abu gosok. Tujuan penelitian melihat perbedaan kekasaran permukaan heat cured dan self cured acrylic resin yang dipoles dengan pumice, abu gosok dan tanpa bahan poles. Metode penelitian : berupa penelitian laboratoris dengan 42 sampel  berupa spesimen dari akrilik resin (21 heat cured dan 21 self cured) dan bentuk lempengan berukuran 5 x 2,8 x 1,2 cm, tiap spesimen diberi perlakuan yang sama yaitu dipoles dengan pumice, abu gosok dan tanpa bahan poles. Setelah itu dilakukan uji kekasaran  dengan profilometer.  Pengolahan data dilakukan dengan SPSS versi 16  dengan uji ANOVA  dan t-test  (p < 0,05). Hasil penelitian: Terdapat perbedaan yang bermakna antara kekasaran permukaan heat cured dan self cured  acrylic resin yang dipoles dengan pumice, abu gosok dan tanpa bahan poles (p<0,05). Tingkat kekasaran permukaan kelompok heat cured lebih kecil dibandingkan dengan self cure dan kekasaran permukaan  yang dipoles pumice lebih kecil daripada abu gosok dan tanpa bahan poles, demikian juga abu gosok mempunyai nilai kekasaran yang lebih kecil daripada tanpa bahan poles.

Kata Kunci :   kekasaran   permukaan,  heat cured acrylic,   self cured acrylic,  pumice,  abu gosok

THE DIFFERENCE  SURFACE  ROUGHNESS  OF  HEAT  CURED AND  SELF  CURED ACRYLIC  RESIN  WHICH  POLISHED  WITH  PUMICE, THE  ASHES  SCRUB   AND  WITHOUT  POLISHING  MATERIALS

Abstract

The manufacture  of acrylic denture polishing needed to get  a smooth prosthesis so comfortable  to wear by the patient. Many  polishes  are  known in  Indonesia for example pumice, these materials are often used in dental laboratories. In addition there are  pumice  material that has never been used but the possibility can be polishes, namely  the ashes scrub. Purposes of research: To see the difference of surface roughness of heat cured and self cured acrylic resin that is polished  with pumice, the ashes scrub  and  scrub  without  polishing materials. Methods of research: a laboratory study with 42 samples of specimens  made ​​of  acrylic resin (21 heat cured and 21 self-cured) and plate-shaped  measuring 5 x 2.8 x 1.2  cm,  each specimen was given the same treatment that is  polished with pumice , the ashes scrub, polished  without  polishing materials. After that is done by means of  profilometer  measurement  then recorded the level of rudeness. Data processing performed with SPSS version 16 and the statistical test with ANOVA and t-test ( p<0.05). Results: There were significant differences between the surface roughness of heat-cured and self  cured  acrylic  resin that  is polished  with  pumice,  the ashes  scrub    and  without  polishing  materials (p <0.05). The level of  heat-cured groups of the surface roughness is smaller than the self-cure  and acrylic resin  surface  roughness  is  polished  with  pumice  smaller when compared  with  the ashes  scrub  and without polishing materials, the ashes scrub likewise  has a smaller roughness values compared without polish materials.

Keywords: surface roughness, heat cured acrylic, self-cured acrylic, pumice,  the ashes scrub

________________________________________________

1Dosen Jurusan Teknik Gigi Poltekkes Kemenkes Jakarta II


ANALISIS TELUR CACING

PADA BERBAGAI SAYURAN LALAPAN MENTAH

Sri Ani 1, Kusrini Wulandari 1, Rahayu Winarni 1

ABSTRAK

Makanan merupakan kebutuhan pokok harus aman mikroorganisme dan bahan kimia penyebabkan penyakit. Pencemaran sayuran berasal dari bakteri dan  parasit patogen seperti telur Ascaris lumbricoides yang akan masuk ke dalam tubuh manusia jika pencuciannya dilakukan tidak sempurna. Sayuran dimakan mentah  seharusnya dicuci dengan air mengalir atau dengan larutan Kalium Permanganat 0,02 % selama 2 menit atau kaporit 70 %, kemudian dibilas dengan air matang yang sudah dingin. Hasil survey di DKI Jakarta terhadap warung makan, mencuci lalapan rata rata hanya di celup celup : kemangi (67,74 %), Kunis/kol ( 51,61 % ) dan slada (100%). Desain penelitian cross-sectional, jumlah sampel 65 lalapan dari 31 warung makan di DKI Jakarta. Rumusan masalah seberapa besar positif telur cacing yang ada pada lalapan ? Hasil penelitian didapatkan dari 65 sampel lalapan 30 ( 46,15 % ) positif telur cacing. Berdasarkan 3 jenis lalapan, kemangi  positif telur cacing 9 ( 29,03 % ), kubis 19 ( 61,29 % ), slada 2 (66,67 % ) dan menyebar pada lima wilayah yaitu Jakarta Utara 8 ( 88,89% ) positif telur cacing, Jakarta Selatan 8 (53,33 % ), Jakarta Timur 4 ( 26,67 % ), Jakarta Barat 8 ( 57,14 % ) dan jakrta Pusat 2 ( 18,18 % ). Kesimpulan : slada positif telur cacing terbesar 66,67% dan Jakarta Utara tertinggi positif telur cacing 88,89%. ketiga jenis lalapan terbanyak positif telur cacing jenis Ascaris lumbricoides 29     ( 44,62 % )

Kata kunci : lalapan - uji laboratorium - telur cacing

Worm Eggs Analysis of Some Fresh Vegetables

 

Abstract

Food is a basic requirement that should be safe from microorganisms and chemicals that cause diseases. Pollution of vegetables that come from bacteria and parasites such as Ascaris lumbricoides worm eggs will  enter into the human body when washing is not perfect. Raw vegetables consumption  should be washed with running water or with 0.02% potassium permanganate solution for two minutes or 70% chlorine, then rinse with boiled water that has cooled. A survey results on raw vegetables consumption  that provided at the food stalls in Jakarta, vegetables washing by the dip of vegetables in water had average only the  kemangi/  basilicum (67.74%), Kunis / cabbage (51.61%),  lettuce funds(100%). A cross-sectional study design, sample number 65 of 31 stalls of fresh vegetables in Jakarta.  Positive formulation of the problem that is how big a worm eggs on fresh vegetables?

Research results on 65 samples obtained from 30 samples of fresh vegetables (46.15%) positive worm eggs. based on 3 types of fresh vegetables basil positive worm eggs 9 (29.03%), cabbage 19 (61.29%), lettuce 2 (66.67%) and  spread into 5 regions : north jakarta 8 (88.89%) positive eggs,south jakarta 8 (53.33%), east jakarta 4 (26.67), south jakarta  8 samples   (57.14%)    and central jakarta 2 samples (18.18%). Conclusion: lettuce largest positive worm eggs 66.67% and the North Jakarta has highest positive worm eggs by 88.89%. the three types of fresh vegetables that have most positive worm eggs type of Ascaris lumbricoides 29 (44.62%),

Key word : Fresh vegetables. Laboratory test, worm egg

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

KINERJA DOSEN POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II TAHUN 2010

Sriyatun

Abstrak

Tesis ini membahas tentang Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan Kinerja Dosen Politeknik Kesehatan Jakarta II Tahun 2010. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode cross sectional dan pengambilan sampel dengan sistem total sampling yaitu semua dosen tetap yang ada di Politeknik Kesehatan Jakarta II. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Mei tahun 2011. Variabel yang diteliti yang berhubungan dengan Kinerja Dosen seperti umur, jenis kelamin, status pernikahan, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, motivasi, sikap, kehadiran, kepuasan kerja, pendapatan, Fasilitas pendidikan dan pembinaan. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.Cara penilaian Kinerja Dosen didasarkan pada pengukuran melalui :

Edom Kinerja Dosen = Edom1+Edom2+Edom3+Edom4+Edom5 : 5

Output Kinerja Dosen = Jumlah Hasil Karya Dosen

Kinerja Dosen = (Edom Kinerja Dosen + Output Kinerja Dosen) : 2

Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kepuasan Kerja merupakan faktor yang paling berhubungan dengan Kinerja Dosen di Politeknik Kesehatan Jakarta II. Hasil penelitian ini menyarankan untuk meningkatkan manajemen terhadap Kinerja Dosen dari berbagai aspek yang mendukung meningkatnya Kinerja Dosen di Politeknik Kesehatan Jakarta II.

 

Kata Kunci : Faktor, Kinerja Dosen, Politeknik Kesehatan Jakarta II, Manajemen

Abstract

This thesis is reviewing factors related to working performance of lecturer’s in Health Politechnic of Jakarta II, Year 2010. The research is using quantitative approach, using cross sectional method and sample selection using total sampling system, which includes all permanent Lecturers in Health Polytechnic of Jakarta II The time of this research is between April – May 2011. Research variabel linked to Lecturer’s  Performance are age, sex, marital status, working experience, education background, motivation, attitude, rate of absence, working satisfaction, earnings, education facility and human resource improvmen. Data collecting is conducted throught interview and questionnaire filling. Assesmnent of working performance based on the following counting formula : Edom lecturer’s working performance = Edom1 + Edom2 +Edom3 +Edom4 + Edom5:5                                                                                                           Output of Lecturer’s working performance = Lecturer’s sum of working result.

Lecturer’s Working Performance = Edom Lecturer’s working performance +Outputof lecturer’s working performance : 2. The result of this research reveals that working satisfaction is the most influential factors to working performance. The recommendation is to improve management of various aspect, particularly related to the effort to enhance working satisfaction in order to improve the working performance of in Health Polytechnic of Jakarta II.

Keyword : Factors, Lecturer’s Working Performance, Health Polytechnic of Jakarta II, Management

 

MODIFIKASI ARUS TABUNG (mA) UNTUK MENGURANGI DOSIS RADIASI YANG DITERIMA PASIEN DAN MENGHASILKAN CITRA YANG BEKUALITAS PADA PEMERIKSAAN CT SCAN CARDIAC

Susy Suswaty 1

Abstrak

Dosis radiasi yang diterima pasien pada CT-Scan kardiak relatif  tinggi karena penggunaan mA (milliamphere) yang tinggi dan pitch yang rendah. Aplikasi mA tinggi dan pitch rendah ini bertujuan  untuk mendapatkan  kualitas citra yang baik dalam segi kontras dan detil karena CT kardiak bertujuan mendapatkan gambaran dari jantung dan pembuluh darah koroner yang merupakan struktur kecil. Sebenarnya teknik pengurangan dosis radiasi sudah dikembangkan oleh produsen yaitu dengan menggunakan system EKG triggering dan pemindaiannya dengan cara sequence (step and shot), tapi metode ini  memerlukan software yang sangat mahal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan penelitian dengan modifikasi arus tabung (mA) sehingga dapat menurunkan dosis radiasi pada pasien. Caranya dengan membagi kelompok kontrol yaitu sampel dengan pemeriksaan MSCT-kardiak dengan parameter standar, yakni pemberian mA selama pemeriksaan CT-Scan 700 mA, selama 0,4 detik,  jumlah sampel 30 pasien. Dan kelompok treatment yaitu sampel pemeriksaan MSCT kardiak dengan parameter modifikasi, yakni pemberian mA selama pemeriksaan CT Scan berkisar antara 300 - 700 mA, selama 0,4 detik, jumlah sampel 30 pasien.  Perbandingan dosis yang diterima pasien antara MSCT Cardiac Parameter Standar (Kontrol) dengan pasien MSCT Cardiac Parameter Modifikasi (Treatment) sebesar (22,68 – 15,86 ) / 22,68  x 100 % = 30,07 %, artinya dosis yang diterima pasien pada MSCT Cardiac Parameter Standar  30,07 % lebih banyak dari pasien MSCT Cardiac Parameter Modifikasi. Selisih rata-rata dosis radiasi efektif sebesar 6,82 mSv. Dari perbandingan kedua pemeriksaan menunjukkan dosis radiasi efektif yang keluar  saat pemeriksaan MSCT Cardiac Parameter Modifikasi lebih kecil  dibanding pemeriksaan MSCT Cardiac Parameter Standar.

Kata Kunci: MSCT Cardiac, parameter modifikasi, dosis efektif

MODIFYING THE TUBE CURRENT (mA)  TO REDUCE THE RADIATION DOSE OF PATIENT AND TO OBTAIN A GOOD IMAGE QUALITY IN CARDIAC CT SCAN

Abstract

The radiation dose received by patients in cardiac CT scan is relatively high due to the use of high mA (milliamphere) and low pitch. Applications of high mA and low pitch is aimed to obtain a good image quality in terms of contrast and detail due to cardiac CT aims is to get an image of the heart and coronary arteries which is a small structure. Actual radiation dose reduction techniques have been developed by the manufacturer by using ECG triggering and scanning system in a way sequence (step and shot), but this method requires very expensive software. To overcome this, research done by modifying the tube current (mA) so as to reduce the radiation dose to the patient. We did this by dividing the sample with a control group, cardiac MSCT examination with standard parameters, namely the provision mA during a CT-Scan 700 mA, for 0.4 seconds, the number of samples of 30 patients. And group treatment of cardiac MSCT examination of samples with modified parameters, namely the provision mA during a CT scan ranged from 300-700 mA, for 0.4 seconds. The numbers of samples are 30 patients. Comparison of the doses received by patients between MSCT Cardiac Parameters Standard (Control) with Cardiac MSCT patients Parameter Modifications (Treatment) is by (22.68 to 15.86) / 22.68 x 100% = 30.07%, mean dose received by patients Standard Parameters in Cardiac MSCT is  30.07% more than patients with cardiac MSCT parameter modification. Difference in average effective radiation dose is 6.82 mSv. From the comparison of the two examinations showed an effective dose of radiation that comes out during cardiac MSCT examination Parameter Modification smaller than the Standard Parameter Cardiac MSCT examination.

Key words : Cardiac MSCT, Parameter Modification, Effective dose

1 Dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II


Hubungan status gizi balita dengan perilaku sadar gizi keluarga di Desa Pagedangan, Kabupaten Tangerang

Trina Astuti¹, Nils Aria Zulfianto¹ dan Sugeng Wiyono¹

ABSTRAK

Keluarga sadar gizi (KADARZI) adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Penelitian dilakukan di desa Pagedangan Kabupaten Tangerang pada bulan Desember 2011 dengan tujuan untuk mengetahui hubungan status gizi balita dengan perilaku sadar gizi keluarganya.  Sampel adalah 102 keluarga yang mempunyai anak dibawah lima tahun (7-59 bulan) yang diambil secara cluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat masalah gizi pada balita seperti gizi kurang dan sangat kurang (19,02%), pendek dan sangat pendek (28,4%), kurus dan sangat kurus (10,04%).  Proporsi terbesar pada kelompok usia 36 bulan keatas.  Tingkat keberhasilan penerapan KADARZI lengkap 5 komponen baru mencapai 2,9%, namun pencapaian masing-masing komponen sudah cukup baik yaitu 93,1% menimbang secara teratur, 69,6% menggunakan garam beryodium, 68,6% memberikan ASI Eksklusif.  Penerapan komponen penggunaan suplemen baru mencapai 34,3% dan keragaman pangan 15,7%. Anak balita dengan status gizi kurang maupun pendek persentasenya lebih besar pada keluarga dengan keragaman pangan yang tidak lengkap, namun secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna. Untuk meningkatkan penerapan keragaman pangan keluarga perlu dilakukan penyuluhan yang berkesinambungan tentang ‘pentingnya mengkonsumsi aneka ragam pangan sehari-hari’.

Kata kunci: kadarzi, status gizi, perilaku.

The Relationship of Under Five’ Nutritional Status and Family Behavior of Nutrition Awareness in Pagedangan Village, Tangerang District

ABSTRACT

The nutrition awareness of family (KADARZI) is  family who can identify, prevent and alleviate their own nutrition problem of family member. Research conducted on December 2012 at Pagedangan village district of Tangerang. The aim of study is to know the relationship of under five’ nutritional status and family behavior of nutrition awareness.  Subject is 102 families who has children under five year (7-59 mo) taken by cluster .  The result showed nutrition problem such as 19.02% underweight, 28.4% stunted, and 10.04% wasting. The proportion is more in children 36 mo above.  The coverage of KADARZI behavior as a whole (complete 5 components of kadarzi) only 2.9%, while coverage each component is better as: 93.1% weighing regularly, 69,6% using Iodine salt, and 68,6% exclusive breast fed.  Behavior  on using supplement reach only 34,3% and 15.7% on food diversification consumption. There is no significant relationship between nutritional status and food diversification consumption, even though more percentage of underweight and stunted children coming from family who not consuming  food diversification.

Key word: ‘nutrition awareness family’, nutritional status, behavior.

________________________

¹Dosen Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Jurusan Gizi.

 

Analisis Paparan Radiasi Setelah Pemeriksaan Renografi Menggunakan RAM – ION Survey Meter di Instalasi Kedokteran Nuklir RSCM Jakarta

Samsun, S.Si, M.Si *)

ABSTRAK

Pada penelitian tentang analisis jumlah paparan radiasi pada pemeriksaan renografi menggunakan RAM ION Surveymeter di instalasi kedokteran nuklir RSUP dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Data penelitian diperoleh dari hasil pemeriksaan fungsi ginjal (renografi) dari 13 pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas dosis paparan radiasi yang diterima pasien yang menjalani pemeriksaan renografi, memprediksi paparan radiasi pada proyeksi organ abdomen, ginjal dan kandung kemih selama pemeriksaan renografi, mengetahui rerata paparan radiasi pada organ abdomen, ginjal, dan kandung kemih, serta mengetahui dan menganalisa penerimaan paparan radiasi pada masing-masing organ selama pemeriksaan berlangsung. Data diperoleh dari alat RAM ION Survey meter  yang ditempel pada pemukaan tubuh pasien selama 45 menit yang disuntik dengan Tc-99m DTPA dan diperiksa pada organ abdomen, ginjal, dan kandung kemih. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa aktivitas dosis paparan radiasi yang diterima adalah 2 mSv hingga 3.5 mSv. Rerata paparan radiasi yang diterima pada organ abdomen adalah 1.07 mSv/pemeriksaan,ginjal 0.75 mSv/pemeriksaan, dan kandung kemih 1.22  mSv/pemeriksaan. Dari trend paparan radiasi yang diperoleh diketahui bahwa akumulasi radioktivitas tertinggi nilainya hingga terkecil terdapat pada kandung kemih, ginjal dan abdomen.

Kata kunci : paparan radiasi, renografi, Tc99m DTPA, RAM ION Surveymeter.

 

ABSTRACT

In the research on the analysis of the amount of radiation exposure on the examination using the RAM ION renografi SurveyMETER in the installation department of nuclear medicine dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. The research data obtained from the results of renal function (renografi) of 13 patients. The purpose of this study was to determine the activity of radiation exposure dose received by patients who underwent renografi, projections predict radiation exposure in the abdominal organs, kidneys and bladder during the examination renografi, knowing the average radiation exposure to the abdominal organs, kidneys, and bladder, as well as identify and analyze the reception of radiation exposure in each organ during the examination takes place. Data obtained from the survey instrument RAM ION meter affixed to the Surface of the patient during the 45 minutes that were injected with Tc-99m DTPA and checked on the abdominal organs, kidneys, and bladder. From the result showed that the activity of radiation exposure dose received is 2 mSv to 3.5 mSv. The mean radiation exposure received by the organs of the abdomen is 1:07 mSv / examination, kidney 0.75 mSv / examination, and bladder 1:22 mSv / examination. From the trend obtained by exposure to radiation is known that the accumulation of the highest value to the smallest radioktivitas found in the bladder, kidneys and abdomen.

Key words: radiation exposure, renografi, Tc99m DTPA, RAM ION Surveymeter.

HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DENGAN INDEKS MASSA TUBUH, KADAR HEMOGLOBIN DAN UMUR REMAJA PUTRI  YANG MENDERITA ANEMIA GIZI BESI

Marudut*),  Hardinsyah,**), Jajal***),  Sri Anna Marlyati**) dan M. Rizal Damanik**)

ABSTRAK

Anemia gizi merupakan salah satu masalah gizi yang umum dialami remaja putri yang tidak saja ditemukan di negara berkembang juga di negara maju dengan prevalensi  yang tinggi di Indonesia sebesar 46% – 61% di kotamadya maupun kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan  pengetahuan gizi dengan indeks massa tubuh (IMT),  kadar hemoglobin dan umur remaja putri yang menderita anemia gizi. Disain penelitian ini adalah cross sectional yang   dilakukan di 5 pondok pesantren Tangerang. Jumlah Responden adalah 157 orang remaja putri dengan kriteria sehat, tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan darah, tidak donor darah 6 ulan yang lalu, berumur antara 14 – 18 tahun dengan tingkat pendidikan kelas 3 SMP sampai kelas 3 SMA dan kadar hemoglobin antara 8.0 – 11.9 g/dL. Data identitas responden, pengetahuan gizi diperoleh melalui wawancara terstruktur, berat badan dan tinggi badan diukur serta status gizi ditentukan dengan IMT, darah dari vena diambil untuk menentukan kadar hemoglobin dengan hemocue. Uji Korelasi Pearsons digunakan dengan α=0.05.   Prevalensi anemia gizi besi adalah 36.1% dari 485 remaja putri. Rerata  pengetahuan gizi, IMT, kadar hemoglobin, umur adalah masing-masing adalah 42.0, 21.16 kg/m2, 10.73 g/dL, 15.81 tahun.  Ada korelasi positif yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan umur responden (r = 0.376 dan p = 0.00), umur dengan kadar hemoglobin responden (r = 0.116 dan p=0.038), umur dengan  IMT (r = 0.166 dan p = 0.038). Namun tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi dengan kadar Hb dan IMT responden. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin muda usia responden, semakin rendah IMT, pengetahuan gizi dan kadar hemoglobinnya.

Kata Kunci: umur, anemia gizi besi,  remaja putri, status gizi, pengetahuan gizi dan  kadar  hemoglobin.

THE RELATIONSHIP AMONG NUTRITION KNOWLEDGE WITH BODY MASS INDEX, HAEMOGLOBIN LEVEL AND THE AGE OF ANEMIIC ADOLESCENT GIRLS

ABSTRACT

Anemia is one of nutrition problems in adolescent  girls that can be found either in developing or developed country in which the high prevalence in Indonesia found in Tangerang District and Municipal which was 46 – 61%. The objective of this research is to analyze correlation between nutrition knowledge with body mass index (BMI), hemoglobin level and the age of anemic  adolescent  girls.  The study design was cross sectional, conducted in five Islamic Religious School (Pondok Pesantren). This study  applied to 157 respondents with inclusion criteria were healthy and no blood disease history, no blood donor 6 months ago, the age of between 14 to 18 years, education in levels  between 9 to 12 years and hemoglobin level between 8.0 to 11.9 g/dL. BMI was applied to determine nutritional status, blood vein were taken to determine hemoglobin level using hemocue, nutrition knowledge and ages through structured questionnaire. Pearson correlation with α=0.05 was applied. Prevalence of  iron deficiency anemia was 36.1% out of 485 adolescent girls. The means of nutrition knowledge, BMI, hemoglobin level, the age, 42.0, 21.16 kg/m2, 10.73 g/dL, 15.81 years, respectively.   There were a significant correlation (r = 0.376 and p = 0.00) between nutrition knowledge with the age of respondents, the age with hemoglobin level (r = 0.116 and p = 0.038) and the age with BMI (r = 0.166 and p = 0.038). However, there were no significant correlation (p > 0.05) between nutrition knowledge with hemoglobin level and BMI,  This research concluded that the younger the age of respondents the lower the BMI, nutrition knowledge and hemoglobin level.

Key words: age, iron deficiency anemia, adolescent girls, nutritional status, nutrition knowledge and hemoglobin level

*)Kanditat doktor bidang Ilmu Gizi Manusia FEMA-IPB,

**)Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor ***)Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

EFEK PEMBERIAN MINUMAN MADU TERHADAP KESEGARAN JASMANI

DAN KADAR GLUKOSA DARAH MAHASISWA

Enik Sulistyowati, Sri Hetty Susetyorini, Kustiono 1)

ABSTRAK

Kesegaran jasmani yang tinggi pada mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar. Minuman karbohidrat dapat mempertahankan kadar glukosa darah dan rehidrasi cairan yang keluar melalui keringat berlebihan selama latihan. Madu merupakan larutan bersifat isotonis. Pemberian minuman madu  diharapkan dapat meningkatankan kesegaran jasmani mahasiswa. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa laki-laki berjumlah 25 orang. Rancangan penelitian adalah randomized  single blind crossover. Subjek diberi minuman salah satu dari plasebo (P) atau minuman madu (M)  secara buta sebanyak 3 ml/kgBB dan diberikan 10 menit sebelum pengujian kesegaran jasmani. Perbedaan kesegaran jasmani dan kadar  gula darah  antara pemberian minuman madu(M) dan plasebo(P) diuji dengan uji  paired t test. Tingkat Significant yang digunakan adalah 5 %. Rata-rata waktu tempuh subyek yang diberi placebo maupun madu hampir sama yaitu 15,90 menit dan 15,84 menit. Tidak ada pengaruh pemberian minuman madu terhadap kesegaran jasmani (p>0,05). Rata-rata kadar gula darah subyek placebo 118,32 mg/dl dan subyek yang diberi minuman madu 135,04 mg/dl. Ada pengaruh pemberian minuman madu terhadap kadar gula darah subyek (p<0,05). Pemberian minuman madu belum dapat meningkatkan kesegaran jasmani mahasiswa.

Kata Kunci: Mahasiswa, Kesegaran Jasmani, Glukosa darah, Madu.

THE EFFECT OF HONEY DRINK TO STUDENTS’ PHYSICAL FITNESS AND BLOOD GLUCOSE LEVEL

ABSTRACT
The high students’ physical fitness can improve learning achievement. Carbohydrate drinks maintain blood glucose levels and rehydration fluid coming out through excessive sweating during exercise. Honey is an isotonic solution and drinking it is expected to improve students’ physical fitness. The subjects of this research were 25 male students. The study design was a randomized single-blind crossover. Subjects were exposed to placebo drink  (P)  and honey drink (M) blindly as much as 3 ml/kg and administered 10 minutes before physical fitness testing. Differences in physical fitness and blood sugar levels between the honey-drink given (M) and placebo given (P) were tested by paired t-test with 5% significance level. The average physical exercise time done by the placebo-drink subjects or honey-drink subjects is almost the same, that was 15.90 minutes and 15.84 minutes. There was no effect of  the honey-drink given of physical fitness (p> 0.05). Average blood sugar placebo subjects was 118.32 mg/dl and the honey-drink subjects was 135.04 mg/dl. There was an effect of honey-drink to the blood sugar levels (p <0.05). This research concluded honey-drink did not improve students’ physical fitness.

Keywords: Students, Physical Fitness, blood glucose, honey.

1)Dosen Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

Analisis kalibrasi Dosimeter Film Badge

dengan menggunakan Phantom PMMA

Samsun 1)

ABSTRAK

Dosimeter film digunakan untuk pemantauan dosis radiasi (gamma) perorangan. Dosimeter harus dikalibrasi terlebih dahulu sebelum dipakai untuk mendapatkan hubungan antara dosis radiasi dengan tingkat kehitaman. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kalibrasi dosimeter film badge yang meliputi perhitungan laju dosis suatu sumber radiasi yang digunakan dan dapat menghitung waktu yang dibutuhkan untuk penyinaran terhadap dosimeter film gamma pada dosis tertentu, pemrosesan film,  membaca tingkat kehitaman film dan kurva kalibrasi dosimeter serta menghitung dosis tradiasi yang diterima pekerja berdasarkan film badge yang dipakai. Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan phantom PMMA (polymethyl methacrylate) dan Film Badge Gamma (film Kodak)  melalui pembacaan kurva yang menunjukkan hubungan antara nilai dosis radiasi yang diberikan dengan tingkat kehitaman film. Dosis radiasi yang didapatkan dari sampel adalah 5,97 mSv, 7,24 mSv, dan 12,90 mSv. Penelitian ini mneyarankan perlu dilakukan kalibrasi dosimeter film badge secara periodik.

Kata kunci : dosis radiasi, film Badge Gamma, phantom PMMA

 

Calibrating Dosimeter Film Badge Using

PolyMethylMethAcrylate (PMMA) Phantom

 

ABSTRACT

Calibrating Dosimeter Film Badge using PolyMethylMethAcrylate (PMMA) phantom carried out to ensure the quality of the equiptment should be done periodically. This evaluation was conducted using PolyMethylMethAcrylate (PMMA) phantom  and Film Badge Gamma (Kodak)  by interpreting the curve showing the relationship between radiation dose and blackening film score. Radiation dose from this research was 5,97 mSv, 7,24 mSv, and 12,90 mSv.

Key Word: radiation dose, Badge Gamma film, PMMA phantom

1)Jurusan Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II


Uji Coba Efektivitas Biofilter Media Cangkang Kerang Hijau

(Perna viridis) Pada Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit

Di Laboratorium Kesehatan Lingkungan

Poltekkes Kemenkes Jakarta II

Aris Budianto, Kuat Prabowo, dan Budi Pramono 1)

ABSTRAK

Pengolahan air limbah rumah sakit dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah proses dengan metode biofilter. Dalam penelitian ini digunakan media filter dari cangkang atau kulit kerang hijau (Perna viridis). Penggunaan cangkang kerang ini dimaksudkan karena dapat memanfaatkan sisa mikroba yang terbukti dapat mengurai protein dan lemak serta permeable tinggi yang dimiliki cangkang kerang, sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan mikroorganisme cukup baik, karena udara terdistribusi dengan mudah pada permukaan media yang luas. Jenis penelitian ini adalah eksperimen, yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media cangkang kerang pada pengolahan air limbah rumah sakit dengan proses biofilter terhadap penurunan kadar BOD, COD, dan TSS. Dari hasil pemeriksaan terhadap kadar BOD setelah perlakuan dengan media cangkang kerang terlihat ada penurunan seiring dengan lamanya waktu tinggal. Dengan waktu tinggal 18 jam mencapai penurunan rata-rata 72%. Sedangkan  kadar COD setelah perlakuan dengan media cangkang kerang terlihat ada penurunan yang cukup besar yaitu 79,19% untuk waktu tinggal 18 jam, namun tidak banyak berubah dengan penambahan waktu tinggal. Begitu juga dengan kadar TSS setelah perlakuan dengan media cangkang kerang terlihat ada penurunan yang cukup besar 85,84% untuk waktu tinggal 9 jam, namun tidak banyak berubah dengan penambahan waktu tinggal. Waktu tinggal yang efektif dalam penurunan kadar BOD adalah 18 jam, karena dapat menurunkan rata-rata sebesar 72%. Sedangkan waktu tinggal yang efektif dalam penurunan kadar COD adalah 18 jam, karena dapat menurunkan rata-rata sebesar 79,19%. Begitu juga dengan waktu tinggal yang efektif dalam penurunan kadar TSS adalah 9 jam, karena dapat menurunkan rata-rata sebesar 85,84%. Biofilter dengan media cangkang kerang telah terbukti mampu menurunkan kadar BOD, COD, dan TSS pada air limbah Rumah Sakit sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan menurut Peraturan Gubernur DKI Jakarta no. 122 Tahun 2005 tentang pengelolaan air limbah domestik di Provinsi DKI Jakarta.

Kata kunci : kerang hijau (Perna viridis), biofilter, air limbah

The Effectiveness of Filter Media Green Mussel (Perna veridis) for Hospital Waste Water Treatment Tested at the Environmental Health Laboratory Polytechnic Jakarta II

ABSTRACT

Hospital waste water treatment can be done in various ways, one of which is the process by using biofilter. This study in used of filter media green mussel (Perna veridis) is taken the shell or clam shells. Use of this clam shell is intended as it can take advantage of residual microbes that break down proteins proved clever and fat and high permeable shell held to the growth of microorganisms is expected to produce good enough, because air easily distributed on the surface of the broad media. This type of research is an experiment, was to examine the effectiveness of media use clam shell on hospital waste water treatment with a biofilter to the reduction  of BOD, COD, and TSS. From the results of examination of BOD after treatment with the media shell clam appears there was a decrease along with the length of time lived. With a residence time of 18 hours to reach a decrease average of 72%. The COD level after treatment with the media shell clam seen any decrease  level is large enough that is 79,19% for retension time 18 hours, but did not change much with additional dwell time. Like wise with TSS levels after treatment with the media shell clam seen any decrease in level is big enough that is 85,84% for retention time 9 hours, but not much changed by the addition of time to live. Residence time is effective in reduction of BOD is 18 hours, due to a decline of an average of 72%. While the residence time is effective in decreasing levels of COD is for 9 hours, because there has been an average decline of 79,19%. So is the residence time is effective in decreasing levels of TSS is for 9 hours, because there has been an average decline of 85,84%. Oyster shell biofilter media has been able to reduce levels of BOD, COD, and TSS in waste water Hospital in accordance with quality standarts  establish by the governor of DKI Jakarta Regulation No. 122 in 2005 on domentic waste water management in DKI Jakarta Province.

Keywords: Green mussel (Perna viridis), biofilter, waste water

1)Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II.

 


UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN

POLIMERISASI HEM SECARA IN VITO SENYAWA SEMISINTETIK BRUSEIN A

Priska E. Tenda1)

Abstrak

Brusein A telah diketahui memiliki aktivitas antiplasmodium. Untuk menaikkan aktivitas antiplasmodiumnya maka disintesis senyawa baru yaitu 3-benzoil brusein A dan 3-dimetil sulfat brusein A. Namun, aktivitas penghambatan polimerisasi hem sebagai salah satu mekanisme antiplasmodium dari kedua senyawa tersebut belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas penghambatan polimerisasi hem senyawa 3-benzoil brusein A dan 3-dimetil sulfat brusein A secara in vitro. Uji penghambatan polimerisasi hem dilakukan dengan cara menginkubasi hematin dalam senyawa uji dalam berbagai seri konsentrasi selama 24 jam pada suhu 37 0C. β-hematin hasil reaksi polimerisasi tersebut diukur absorbansinya dengan mengguanakn Elisa reader pada panjang gelombang 405 nm. Penelitian ini menunjukkan Brusein A dan senyawa turunannya 3-benzoil brusein A dan 3-dimetil sulfat brusein A pada konsentrasi uji yang digunakan belum mampu menghambat polimerisasi hem secara in vitro.

Kata kunci: Brusein A, senyawa semisintetik, polimerisasi hem, in vitro

HAEM POLYMERIZATION ACTIVITY IN VITRO ASSAY  OF BRUSEIN A SEMISYNTHETIC COMPOUND

Abstract

Bruceine A has been known in having antiplasmodial activity. Two compounds were synthesized to enhance their activity, such as 3-benzoyl bruceine A and 3-dimethyl sulfate bruceine A. Those semisynthetic compounds need to be explored their inhibition of haem polymerization assay as one of antiplasmodial mechanism.    The objective of this research was to know inhibition of polymerization activity of 3-bruceine A and 3-dimethyl bruceine A. β-hematin as polymerization reaction result was measured its absorbance using Elisa reader on 405 nm. This research showed that inhibition of haem polymerization assay bruceine A, benzoyl bruceine A and 3-dimethyl sulfate bruceine A on its test concentration have not been able to inhibit haem polymerization in vitro on test concentration.

Keywords: Bruceine A,  semisynthetic compound, haem polymerization, in vitro

1)Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang

 

UJI COBA MEDIA GRAFIS SELERA MAKAN

Maria Poppy Herlianty, Augustina  Hendrorini, Nur’aini Susilo Rochani 1)

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media grafis makanan pada penelitian Herlianty 2010 yang paling disukai oleh para pasien. Media grafis makanan ini diharapkan berguna untuk membangkitkan selera makan pasien AIDS di rumah sakit. Desain penelitian adalah Diskusi Kelompok Terarah (FGD). Penelitian ini dilakukan 2 tahap. Pertama adalah memperoleh saran dari dokter dan paramedis yang bertugas di ruang rawat AIDS. Berdasarkan hasil itu, dikembangkan media grafis yang akan diuji pada pasien. Informan AIDS terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan, 25 – 43 tahun dan bersuku jawa, Betawi, batak dan Sunda. Kondisi informan berada pada stadium 3 – 4, sehingga subyek homogen. Kesimpulan penelitian ini, kebanyakan informan menyukai warna biru dan kata-kata rohani yang ditulis dengan huruf yang berseni ((Brush Script MT) dan ilustrasi gambar kartun. Saran dilakukan penelitian sejenis agar mendapat serangkaian media grafis yang disukai pasien untuk meningkatkan selera makan pasien. Rekomendasi agar media grafis ini dapat digunakan juga bagia anak, anak sekolah.

Kata kunci: media grafis, selera makan, DKT/FGD, pasien HIV/AIDS

 

The Graphic Media of Food Label Sticker for Food Appetite  Trial

Abstract

This study goal is to identify the graphic media of food label sticker in food plate that used in the Herlianty study at 2010 which more desire by patient. This food label sticker expected as appetizing eating tool of patient with AIDS in Hospital. Study design was Focus Group Discussion approach. The study was held in two steps. The first was gather ideas from 8 informants that were medical doctor and paramedic that in duty in the AIDS patient ward. Based on it, the researchers redeveloped thus graphic media for examined to patients. The AIDS informan were 4 men and 4 women, 25-43 years old and the origin culture of patient was Javanese, Batavia, Batak and Sundanese. The informan conditions were in the stage 3 - 4 of AIDS, so that subject was homogenous. The conclusion of this study, it is most of the informans desire the picture illustration designed with blue color and has religious word. The subject research also more desire to the media illustration that use letters with sense of art (Brush Script MT) and have cartoon picture on it. The suggestion is need more similar research to identify varieties of the picture illustration or medias that more desirable by patient as tool to improve food appetite for patient in hospital. The recommendation is the graphic media could also be used  for children or school children.

Key words: the graphic medias, food appetite, FGD, HIV/AIDS patient

1) Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Jakarta II


Hubungan Faktor Risiko Ergonomi Dengan

Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Pengrajin Sepatu

Kuat Prabowo, Wakhyono Budianto, dan Catur Puspawati 1)

ABSTRAK

Salah satu masalah kesehatan kerja di sektor informal adalah buruknya lingkungan kerja yang berkaitan dengan faktor ergonomi. Nyeri punggung  bawah menjadi masalah kesehatan di hampir semua Negara, dan  hampir bisa dipastikan, 50- 80% orang berusia 20 tahun ke atas pernah mengalami nyeri pinggang atau disebut nyeri pinggang bawah (low back pain) , bahkan umumnya, perempuan usia  60 tahun ke atas lebih sering merasakan sakit pinggang. Berdasarkan observasi pada setiap aktivitas yang dikerjakan oleh karyawan di  Perkampungan Industri Kecil (PIK) di Pulogadung Jakarta Timur , terdapat postur – postur janggal pada saat bekerja antara lain : pinggang tidak bersandar dan memutar, leher memutar, lengan atas memutar, dsb. yang  dapat berisiko menimbulkan keluhan Nyeri Punggung Bawah (low back pain).  Hasil uji statistic menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (signifikan) antara karyawan yang mempunyai risiko ergonomic dengan terjadinya keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin (OR=7,56), yang artinya bahwa pengrajin yang beresiko ergonomic mempunyai peluang 7,56 kali lebih besar untuk mengalami keluhan nyeri punggung bawah dibanding pengrajin yang tidak beresiko ergonomic. Perlu dilakukan perubahan desain tempat duduk dan media kerja yang disesuaikan dengan ukuran antropometri pengrajin serta pengaturan kembali shif kerja pada pengrajin.

Kata Kunci : Risiko Ergonomi, Keluhan Nyeri Punggung Bawah, Pengrajin Sepatu.

The Relationship between Ergonomic Risk  and  Low Back Pain Complaint of  Shoe Craftmen

ABSTRACT

One of the problem in the informal sector labor force was the worst of work environmental connected to the ergonomy factor. Low back pain became the health problem all over the world. It can be confirmed that 50 – 80 % 20 years old had back pain or low back pain. Mostly women up 60 years old felt wrist pain. Based on the observation in every activity worked by the employee there were inappropriate postures during work such as : unlean on and rounding wristh, rounding reck and upper arm. The low back pain will be happened if those things happened continousely. The statistic result test showed that there was significant correlation between the worker who has ergonomic risk with the low back pain complaining to the craftmen (OR = 7,56) which means the ergonomic risk craftmen have bigger probability (7,56) which means the complaining than the no ergonomic risk worker. Such as : Change sitting position design and working media to be appropriate to craftmen anthropometry, recognize working shift so each of craftmen will get the load maximally 8 hours, do the secondary prohibition by doing healthy examination occasionally so that able ti diagnose the complaining earlier before the shymptoms become worst.

Key words : Ergonomic Risk, Low Back Pain, Shoe Craftmen.

1) Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Jakarta II.


ANALISIS VARIASI NILAI WINDOW WIDTH CT SCAN KEPALA

PADA KASUS STROKE NON HEMORAGIK

Eddy Rumhadi1, Nursama Heru Apriantoro1, Agustinus Rianto2

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui parameter window width yang tepat pada pemeriksaan CT Scan Kepala dengan kasus stroke non hemoragik. Penelitian dilakukan berdasarkan observasi terhadap lima orang sampel di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara. Data analisis berdasarkan pengisian kuisioner dari dokter radiologi, dengan penilaian kualitas gambaran terhadap Basal Ganglia, Nucleus Caudatus, Thalamus, Sistem Ventrikel, White dan Grey Matter, Perifer Sulci, Fissura Sylvii dan Lesi Hipodens pada 70 HU, 80 HU dan 90 HU. Perhitungan dilakukan secara metoda analitik. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh penggunaan variasi nilai window width terhadap kriteria kualitas citra anatomis. Dari hasil penelitian disarankan penggunaan 70 HU untuk CT Scan kepala dengan kasus stroke non hem

Tampilan # 
Powered by Phoca Download
1,206,095 hitsVisitors Counter